This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BAHASA KOREA

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BERORGANISASI DAN BERJUANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 September 2014

50% Merdeka


kartu sudah dibagikan
siapa yang punya kartu truf?
pada emosi yang buta hurup
media cetak corongnya cendana
semua berita dijokul obralan
jurnalistik tanpa rasa kemanusiaan
kekejaman disulap jadi rayuan
ada hujan milyaran uang haram?
pengkhianat bangsa jelas kelihatan
yang jual diri jual nama jual iman
ironi memori bangsa indonesia
manipulasi sejarah terbukti sudah
apa lagi yang kau mau tau?
istana punya kuasa
cendana punya dana
elite politik lagi main kartu
bosnya punya nama dipoles
propaganda sesat para penjilat
sedangkan di bawah banyak urusan penting
korban bencana alam menggigil kedinginan
rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan
bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran
ayo! marikita bersama
bersatu mengganyang keraguan
kita belum merdeka 100% bung!
sirajatega masih berkuasa
maka derita itu dobel bencana
jaga semangat persatuan indonesia
jangan mau dirayu bujukan uang haram

DISKRIMINASI


puisi dibakar dendam sejarah
kontradiksi pun makin parah
sebaris sajak yang berlawan
membabat semua keraguan
puisi lahir akibat diskriminasi
simpan segala busuk teori
ribut itu adalah tandanya
manipulasi dosa disengaja
puisi menggugat memorimu
muram langit otak kelabu
buasnya senyum intrik politik
seperti sinyal biang konflik
puisi ditulis buat siapa?
jika badai itu menggila
lalu kita mau apa?
pasrah dan berdoa?
puisi resah tak bisa diam
berbisik di tengah malam
nembus ruang waktu
menjelma jadi batu!

Indonesia Kita


indonesia adalah tanah airnya
tempat semua cerita bertarung
masa lalunya bekas orang jajahan
sekarang diatur maunya pasar
pasarnya politik uang
semua bisa bilang sayang
ada uang abang sayang
kaum mudanya terbelah dua
mayoritas hobinya maen gadget
sebagian kecil bicara kesadaran kelas
jika pendidikan kurang
kemiskinan pun merajalela
koruptor dipuja seperti selebritis
istilahnya duit bisa beli setan
indonesia adalah harapan demi perubahan
tanpa kerja keras tak mungkin ada yang berubah
ayo generasi muda jangan lupakan sejarah!

kanang city,14-09-2014 23:20

DoA PoliTik

Tuhanku, Tuhan Kami
Inilah doaku, doa kami
untuk bangsa politik, untuk negara politik, untuk rakyat politik, untuk politisi partai, untuk peminpin politik.

Ketukan pintu politik kami, kian rusak
syair-syair politik kami, kian memanas
tak ada lagi kebenaran, kejujuran, pengertian, serta sejengkal logika cita-cita pembebasan rakyat.

Tuhan..
Kami inginkan politik yang damai
kami inginkan senjata-senjata itu berhenti menghantui hidup kami.
Kami sudah cukup mengerti akan negara
Kami sudah cukup paham akan kemiskinan
kami sudah turut merasakan ekonomi yang tak pernah berpihak.

Tuhan…
Kami butuh jawab-Mu
Nyanyian rentetan senjata israel, itu doa siapa?
Quick Count pemilu yang bersebrangan, itu dosa siapa?
Kecemasan akan bencana perang politik, itu pertobatan siapa?

Tuhan…
Kami butuh pengakuan-Mu
jikalau setiap pengakuan di Bumi sudah mengancam kehidupan kami.
Jikalau kemenangan pilpres hanya melahirkan kecemasan bangsa kami.
Jikalau pengakuan kemenangan politik, hanya merobek persatuan kami.

Tuhan…
Di manakah surga-Mu
jikalau mitos Suraga kaki Ibu, masih diyakini oleh kami, hingga saat ini.

Tuhan…
Tunjukan surga-Mu
untuk republik ini

SINTINGKU MENCUAT




Inilah Sintingku yang mencuat
Tak seperti debatan para sinting tentang si-Sinting, yang mebuat pernyataan sinting di negeri Sinting.

Sintingku mencuat, ketika melihat para sinting bermain suara.
Sintingku memuncrat, ketika mendengar para sinting membeli suara.
Sintingku memusat, ketika menyimak para sinting mengkibuli rakyat.

Sintingku mengalir deras, seirama syair-syair sintingku ini.
Sintingku mengamuk keras, seirama rusaknya otak sintingku ini.

Mungkin saja…
Sintingku bisa merobek luka hati masa rakyatku.
Sintingku mampu membuka pola pikir politisiku.
Sintingku sanggup menutup seluruh kesintingan, penyinting bernegeri sinting.

Wahai para sinting sepertiku,
marilah melanjutkan syair sintingku ini.
Mulailah membaca syair sintingku ini.
Mungkin akan lebih cerdas, ketimbang menyimak calon presiden sinting di negeri sinting, yang sedang membaca pidato politik sinting, lalu memaksa suara-suara sinting untuk memilih pemimpin sinting sepertinya.

Sintingku berawal dari cerita pemimpin sinting.
Mungkin saja, sintingku lebih sensasional dalam larikan puisi sinting ini.
Mungkin juga akan sangat rasional bagi penyimak puisi sinting se-aliranku.

Inilah tanda-tanda kesintinganku.
Atas nama anggota partai sinting,
Atas nama politisi sinting,
Atas dasar ketukan palu rapat para sinting,
maka lahirlah pemimpin sinting
dengan mengatasnamakan pemimpin sinting akar rumput.

Mungkin amnesia sedang melekat pada otak sintingku ini,
Tak ada negeri sinting yang bisa merdeka, jikalau rakyat sinting sepertiku, tak pernah terorganisir ke dalam cita-cita politik yang sendem.

Sintingku mungkin lebih kritis dari kritikus beruang di negeri sinting

Lihatlah…,
Organisasi akar rumput saja masih hingar bingar, berlari tak punya ideologi.
Lalu apa hebatnya, memilih pemimpin di negeri sinting, jikalau wakil rakyat, hanya jadi slogan koalisi.



Politik Jari Tangan



Jijik,
Jorok,
amis,
melihat, mencium,
jari tangan politik empat belas.

ibu jari, bapak jari, tanta jari, paman jari, anak jari, di angkat setinggi kepala
melengking di setiap panggung demokrasi.

Politik jari tangan, jadi brand pemilu
Salam-salaman ibu jari, hingga bapak jari cemburunya minta ampun.
Salam-salaman tanta jari, hingga paman jari ngamuknya minta ampun.
Sedangkan anak jari, bingung melotot sana-sini.
Heheheeeee….

Politik jari tangan,
dari kumpulan kuku-kuku hitam
kalaupun berwarna, itu karena cat politik

Politik jari tangan,
dari koalisi pakar-pakar jari,
jari pengusaha, jari perampok, jari pembunuh, jari koruptor, jari politisi,
mengejar, merayu, menyunting
jari petani, jari nelayan, jari buruh, jari kaum miskin
hingga kemenangan tiba,
koalisi jari, lototnya sedih-sedih seru.

Apalah untungnya politik jari tangan, jika ruas-ruas jari tak pernah terorganisir secara baik?

Apalah arti politik jari tangan, jika ideologi ekstraparlemen masih sebatas unjuk tarian jari?

Apalah arti kuasa politik jari tangan, jika sistem jari presidensial masih berbau
kepentingan koalisi?

Hehehehehee…..
Jutaan jari mendadak pemilu,
Meloncat-loncat dengan segala loncatan kepentingan.
Menunjuk-nunjuk dengan segala pertunjukan privasi,
hingga kolektivisme itu diam, sambil menghisap jempol politik.

kuku-kuku politik


PUISI-PUISI  “REVOLUSI MENTAL” KARYA CARLOS TOULWALA



Jari-jari kurus berkuku hitam
itu tanda, kukunya ‘Pak Tani
itu berarti, kaum buruh sedang bekerja
mungkin juga, nelayan sedang mencari, atau kaum miskin kota sedang mengorek sampah jalanan.

Kuku-kuku hitam, di ujung jari politisi hitam
mengotori politik publik
mencubit-cubit ekonomi rakyat
mengorek kas-kas negara
lalu bersembunyi di balik jari-jari kekuasaan
hingga ruas-ruas Kejari, tumpul di mata kukuk hukum.

Saling kejar, saling tangkap,
licin, lolos, mulus,
lalu uang yang tertangkap.

Kuku-Kuku hitam, di jari-jari partai
berpolitik menggaruk kekuasaan
menggores alur-alur proyek
hingga selangkangan dompet terkuras
demi mimpi relawan politik.

Kuku-Kuku hitam, punya relawan politik
sengit terdengar ditelinga demokrasi.
Bila menang, ketiak-ketiak kuku tersenyum bangga membagi kedudukan negara.
Bila kalah, ketiak-ketiak kuku tertidur pulas di rumah sakit terdekat.

Hehheee….
Kuku politik, kasar mainannya
meleceti setiap kesempatan untuk merdeka
melukai setiap harapan pembebasan nasional
hingga jeritan rakyat, terjerat di ujung kuku-kuku hitam.

Revolusi

sebuah bahtera melanda setiap jiwa
tuk bangkit dari penjajahan si raja fir 'aun
gegap gempita di penjuru negeri
menyambut nur Illahi datang menerangi

seribu bahasa bergema bertakbir di lorong lorong kota
sambut kemenangan yg di janjikan
bangunkan si pejuang lelah
dari keterpurukan tangan besi si penguasa dzolim

negeri besar telah berdiri
menjulang tinggi di dasar hati
lelaki sejati tumbalkan jiwa
demi cita ilahi Raby

dari diri hingga negeri
revolusi berbalut takbir bergelora jiwa nan lembut
di buai darah si anak negeri
rentangkan kaki di ujung jalan
di batas negeri yang menjadi saksi

Semilir Nur Ilahi Mendekap Qalbu

menembus ranting cahaya nan suci di qal bu
semerbak kehidupan menyeruak di sela dedaunan
diliputi nyayian rumput liar
dahan ilalang subur di jiwa

di hinggapi alunan tasbih
dalam kelam ku bersujud
menempa jiwa di padang tandus

membawa kesejukan bak rindang pohon
meresap di qol bu mendaki  asa
dalam karang gunung kepalsuan

ku seranhkan jiwa nan raga
duduk bersimpuh dalam keharibaan-Mu
secercah iman menghisab diri
dari jauhnya kilauan dunia

berontak jiwa nan lembut di rimbunya nur Illahi
mengajak tamasya di di relung jiwa
 akulah pengembara di tanah nan suci
yang di takdirkan membawa risalah
tuk merubah jalan berliku

Sang Pejuang

dataran rendah elok terhampar
suara burung bangkai liar di awan
dalam nafas si kuda jantan
di kaki bukit penuh kemulyaan

dalam terik kau menghujam
laksana hunusan pedang menyambar jiwa
ratakan tanah tanah yang gersang 
kau balut dengan rimbunan nur Illahi

penduduk desa bersuara miring dalam kerontang haus dan dahaga
dalam semak semak belukar kau hadir tebarkan senyum
dihiasi darah nan mulya
di kaki gunung pengharapan
dalam diam slalu bermunajat 
pada Illahi raby sang penguasa Allam
dentumkan genderang tanda kan datang 
di kilauan sinar surya
gertakan suara kaki
debu debu berhamburan biar syetan durjana terbiritbirit
tak sanggup tegap depan sang pejuang sejati

Sabtu, 13 September 2014

Goodbye Friends

disini, di tempat ini
banyak yang sudah kita lalui bersama
sekarang, aku tak sanggup di tempat ini sendiri
aku tak sanggup sendiri disini
aku ingin kita bisa bersama lagi di tempat ini
aku tau,,,
kita mempunyai cita cita yang berbeda
kita mempunyai masa depan yang berbeda
kita mempunyai ke inginan yang berbeda
tapi, aku tak sanggup untuk berpisah dengan kalian
aku sayang sama kalian
aku tak ingin kehilangan orang orang yang ku sayangi untuk ke 2 kalinya
kini, aku tersadar,,,
bahwa aku harus bisa mengambil keputusan
yang terbaik
bagi ku dan bagi mu
I LOVE BESTS FRIENDS
aku akan slalu merindukan kalian

Langit di Siang ini


surya terasa di atas kepala.
Tak sengaja tatapan terbawa,
lihat ke tempat yang tak biasa.
Tak tentu warna langit kini.
Entah cerah atau mendung.
Tak tampak pula wibawanya kini,
yang terpandang di hari lalu.

Angin berhenti berlalu,
karena tanya yang sama dari banyak orang
Tentang kegundahan di tengah hari.
Langit baca tiap hati,
yang ingin ia meraja lagi.
Awan pun terayu pergi,
oleh bahana tentang keriangan hari.
Biru kembali penuhi mata,
tanpa ragu ia berwarna.
Sihir muka yang muram durja,
langit telah kembali meraja.

Selasa, 02 September 2014

ketika

Ketika Ame’ ProletarSociety
Ketika gumam perlawanan tak lagi terdengar ketika gertakan orator tak lagi menggelegar ketika sajak tak mampu lagi memproklamirkan perlawanan di saat itu pula jiwa raga dan kebenaran di lenyapkan Ketika dialektika tak lagi di benarkan ketika kritik mulai di bungkam ketika keprogresifan tak lagi di hiraukan di saat itu pula para pedebah berhasil menciptakan manusia robot dari carut marutnya pendidikan Ketika kaum muda tak lagi berpegangan ketika kaum muda bukan lagi agen perubahan ketika kaum muda tak mampu lagi merangkul rakyatnya di saat itu pula kaum muda menjadi kaum yang hina dan arogan Tapi.... ketika gumam revolusi mulai mengancam Tapi.... ketika dialektika menjadi pedoman dan tapi.... ketika kaum muda dan rakyat maju bersama untuk perubahan di saat itu pula perjuangan penghancuran tirani akan melahirkan kebenaran dan kedamaian dan itu sebuah keharusan. Ame’Syariah/Mua 013

Rabu, 27 Agustus 2014

Tamu Negeriku



Tamu Negeriku
Abd. Rahman/Ame'

Tamu telah tiba di tanah kita
Tak kita sadari dia telah lama tinggal di rumah kita
Makan dan minum seenaknya di dapur kita
Mandi dan Tidur sesukanya di rumah kita

Kau datang bukan untuk memberikan kebahagiaan padaku
Kau datang bukan untuk menjunjung kebenaran dan kedamaian
Tapi Kau datang untuk meracuni anak-anakku dan orang tuaku
Kau datang untuk menghancurkan nilai kemanusiaan yang ada di tanah airku
Kau datang membawa malapetaka bagi negeriku

Gadis Berkerudung



Gadis Berkerudung
Mammank, 02/08/2014

Pernah kah waktu bertanya tentang ku
pernah kah dunia menyinggung rasaku
pastinya tidak, waktu dan dunia tak mampu menafsirkan rasaku
begitupun kau yang takan pernah mampu membaca inginku
Hanya mampu menatapmu dari jauhku
memandangi paras cantik di balik kerudungmu
mendengarkan tutur kata yang merdu darimu
walau dengan mendendamkan keadaanku
Ini lah aku yang hanya mampu memujamu

Ada apa dengan Bunga ?



AdaApa Dengan Bunga ?
(SpesialBuat Kawan Irfan/Lecet)
Cipt. Mammank

kawan bertanya ada apa dengan bunga 
aku pun tak luput dari tanya mengapa
mereka memiliki ribuan tanya tentang bunga
yaa.... bunga telah di petik oleh salah satu kawan


semakin mekarlah sang bunga
siraman cinta telah memekarkan sang bunga
kawan dengan penuh kesungguhan berbangga
memetik dan akhirnya memiliki sang bunga adalah cita
karena ia dan kami tahu jikalau bunga adalah kesejatian cinta

mekarnya sang bunga pastinya di balik layu dan mati
begitulah singgungan sang pujangga kepadanya si kawan
yang seakan menjadi gila di taman bunga