This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BAHASA KOREA

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BERORGANISASI DAN BERJUANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 11 September 2014

Aksi Massa Tan MALAKA (1926)



Aksi Massa
Tan Malaka (1926)


KAPITALISME INDONESIA
Kapitalisme di Indonesia adalah cangkokan dari Eropa yang dalam beberapa hal tak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam negerinya sendiri, yakni Eropa dan Amerika Utara.
1. Kapitalisme yang Masih Muda
kapitalisme di Indonesia masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah mencapai tingkat yang semestinya. Kira-kira seperempat abad belakangan baru dimulai industrialisasi di Indonesia. Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin yang modern dalam perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan timah.
Industri Indonesia, terutama industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan mengandung barang-barang logam yang tak ternilai harganya, seperti Sumatera, Borneo, Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan manusia. Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali Sumatera, masih rimba raya.
Industri modern yang sebenarnya tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal menjadi tempat industri pertanian. Sebab logam-logam seperti besi, arang, minyak tanah, emas dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di sana. Sumateralah yang menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini sekarang sebagian kecil telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah hasil Sumatera (kelak juga besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun internasional.
Inggris, negeri industri yang tertua di dunia, pada pertengahan abad yang lalu mengadakan perubahan yang tepat dalam perindustriannya. Negeri-negeri Eropa yang lain dan Amerika Utara mengikuti pula berangsur-angsur. Teknik dan peraturan bekerja di sana sekarang telah sampai pada tingkat yang setinggi-tingginya seperti yang belum pernah dikenal oleh riwayat dunia. Tenaga produksi dan distribusi jauh melewati batas keperluan nasional. Eropa dan Amerika Utara telah menjadi negeri kapitalis yang matang.
Kapital memisahkan kota dengan desa. Kota menghasilkan produksi industri dan produksi pertanian. Makin maju kapitalisme, semakin banyak penduduk yang tadinya di desa-desa ditarik ke kota-kota. Bukankah di kota sewaktu keadaan politik dan ekonomi baik, kita peroleh lebih banyak pekerjaan, lebih banyak rumah-rumah pendidikan dan lebih banyak kesenangan daripada di desa-desa? Pada tahun 1790 di kota-kota berdiam 3.4% dan di desa-desa 96.6% penduduk dari seluruh penduduk, dan pada tahun 1920 menjadi 51 % dan 49%. Di tahun 1870 angka-angka itu jadi 21% dan 79% dan di tahun 1910 jadi 51 % dan 49%. Jadi, jumlah penduduk di desa-desa pada tahun 1920 lebih kecil dari penduduk kota. Angka-angka ini membuktikan secara nyata pada kita perihal kemajuan kota-kota Amerika, sebagai akibat dari kemajuan industrialisasi. Di negeri Inggris proses pembagian itu (perihal kota dan desa) sama teratur dan sama cukupnya. Pada tahun 1850 di kota-kota berdiam 49% penduduk dari seluruh penduduk. Pada tahun 1900 perbandingan ini menjadi 77% dan 23%, (The relation Governement to industry, M.L. Regua).
Menurut foods No. 73 tahun ini, jumlah penduduk dan kota-kota yang mempunyai lebih 10,000 jiwa di Jawa dan Madura baru 60% dari seluruh penduduk.
Jika kita pakai perbandingan antara penduduk kota dan desa sebagai ukuran kemajuan industri satu-satu negeri, niscaya industri Indonesia masih di dalam keadaan bayi.
Jika kita ambil pula jumlah panjangnya jalan kereta api untuk menggambarkan kemajuan industri selaku penjelasan uraian kita yang di atas, nyatalah kepada kita bahwa negeri Jerman, dengan 177,000 mil persegi luasnya dan penduduknya yang lebih sedikit dari Indonesia, pada tahun 1913 mempunyai 38,809 mil jalan kereta api, sedang Indonesia yang luasnya 735,000 mil persegi, pada tahun 1919 hanya ada mempunyai 3,914 mil.
Perihal jumlah perdagangan (impor-ekspor) di Indonesia 1924 (sesudah perang dunia) ada f 2,208,800 (menurut International Ocean, no. 526, Negeri Jerman pada tahun 1913 [sebelum perang] ada f 13,375,000.000). Angka-angka ini menunjukkan kemunduran kita. Tetapi jika dibandingkan dengan negeri seperti Inggris, India, dan Filipina, kelihatannya Indonesia belum berapa mundur. Dan bila dibandingkan dengan Turki, Siam, dan Tiongkok, Indonesia jauh lebih baik. Dengan membuat perbandingan itu sebagaimana yang sudah kita lakukan, sebetulnya ini telah melebihi dari kemestian. Maksud kita tak lain ialah untuk menerangkan betapa mudanya kapitalisme di Indonesia.
2. Tumbuh Tidak dengan Semestinya
Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputra yang menurut kemauan alam. Ia adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra.
Bila kita perhatikan perkembangan kapitalisme di Eropa dan Amerika, nyatalah pada kita bahwa cara produksi yang tua berturut-turut digantikan oleh yang muda. Biasanya kejadian itu tidak tampak jelas, tetapi adakalanya cepat sehingga cukup jelas. Kejadian yang belakangan ini ialah oleh adanya pendapatan-pendapatan baru. Biar bagaimanapun keadaan saat itu, ia adalah kemajuan menurut alam, sebab tenaga yang mendorongkan pada kemajuan itu ada di dalam genggaman masyarakat di Eropa dan Amerika sendiri.
Sebagaimana yang telah kita tunjukkan, kemajuan industri di setiap negeri sejajar dengan timbulnya kota-kota yang mengeluarkan terutama barang-barang industri seperti barang-barang besi, perkakas pertanian, obat-obatan dan lain-lain. Desa-desa mengeluarkan beras, sayur-mayur, binatang ternak, susu dan lain-lain. Barang-barang kota yang berlebih — yakni barang itu dipandang penduduk kota sebagai keperluan hidupnya ditukarkan dengan barang-barang desa yang berlebih itu.
Di Amerika pada waktu yang biasa seperti pada tahun 1913, selagi negeri ini terpencil dan kurang imperialistis, seperti sekarang ini, boleh dikatakan sama besarnya perbandingan antara barang-barang industri dengan pertanian (harga pasar antara kedua barang itu hampir sama). Jadi dalam pemandangan ekonomi kota memenuhi keperluan desa, desa memenuhi keperluan kota.
Di Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana mestinya, tidak seperti di atas keadaannya. Kota-kota kita tak dapat dianggap sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang-barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis bumiputra. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan barang kebutuhan untuk kota-kota, karena untuk mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar, di tahun 1921 seharga f 114,160,000, meskipun bangsa kita umumnya sangat pandai mengerjakan tanahnya dan semua syarat untuk menghasilkan beras bagi keperluan sendiri bahkan dapat pula mengeluarkan berasnya yang berlebih. Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dan lain-lain barang perdagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita bukanlah menjadi pusat ekonomi bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk setan-setan uang luar negeri.
Bahan yang menyebabkan kapitalisme bukanlah Indonesia — mengingat riwayat negeri kita yang tersebut di atas — teranglah bagi kita.
Sudah kita lihat bahwa politik perampok bangsa Belanda, memusnahkan sekalian benih-benih industri bumiputra yang modern. Hongi-hongi cultuur stelsel, monopoli stelsel dan gencetan pajak yang tak ada ampunnya. Dan pemasukan saudagar-saudagar Tionghoa yang teratur di zaman Kompeni Timur Jauh (VOC) menghancurluluhkan sekalian alat-alat sosial ekonomi dan teknik nasional yang kuat.
Jika sekiranya bangsa Indonesia tidak dirampok, dan mempunyai kepandaian teknik, serta dipengaruhi oleh orang asing, tentulah orang Indonesia ada kesempatan untuk memenuhi kemauan alam.
Boleh jadi dengan secara damai (seperti di Jepang) atau dengan perantara pemboikotan nasional (seperti di India) kaum menengah Indonesia atau Indo dengan jalan mengumpulkan kapital nasional mendirikan industri untuk memenuhi kebutuhan nasional seperti tenun besi.
Demikianlah, kapital Indonesia timbul dengan teratur pula antara lapisan-lapisan sosial Indonesia dan mempunyai perhubungan yang teratur. Saudagar Indonesia yang dulu kecil sekarang sudah menjadi bankir atau mengepalai perusahaan yang besar-besar. Penempa besi, tukang tukang gula, saudagar batik yang dulu kecil menjadi pemimpin industri logam, gula atau tenun. Tetapi imperialisme Belanda dalam 300 tahun tak meningkatkan apa pun untuk bangsa Indonesia, semua habis diangkut ke negerinya. Ia memuntahkan kapitalisme kolonial Belanda yang tidak ada duanya di dunia.
Maju ke dalam perjuangaan ekonomi melawan raksasa asing, dengan maksud meningkatkan industri nasional sama dengan "menjaring angin".
3. Kapital Indonesia Itu Internasional
Imperialisme Inggris dengan industri nasionalnya yang nomor wahid dan armada yang luar biasa, semenjak semula merasa perlu mengadakan kompromi dengan raja-raja, dan tuan-tuan tanah bangsa India, untuk mempertahankan diri terhadap borjuasi bumiputra yang baru timbul. Tetapi tatkala yang tersebut belakangan ini keluar dari medan perjuangan dengan kemenangan (di tahun 1900-1905 dan 1919-1922), Inggris mengulurkan tangannya.
Bersama dengan raja-raja, tuan-tuan tanah dan borjuasi India yang baru itu, dia pergi memperkuda punggung rakyat yang menggerutu itu. Bagaimanapun sulitnya imperialisme Inggris, ia masih mempunyai tujuan di dalam kerajaan sendiri.
Imperialisme Belanda memukul dan menendang "kerbau" yang sabar itu, sekian lamanya, hingga sekarang kerbau itu mempergunakan tanduknya.
Belanda kecil yang di waktu dulu menelan segalanya untuk dirinya sendiri, sekarang terpaksa membagi-bagikan itu dengan negeri-negeri yang lebih kuat.
Adapun kekurangan kapital dan industri, adalah sebab yang terpenting dari tindakan Belanda itu, maka semenjak beberapa tahun, kapital Inggris memegang peranan besar di Indonesia. Raffles yang bijaksana itu sudah lama melihat hal ini dan tidak puas sebelum ia dapat mengelabui mata Belanda-tani itu. Setelah perang dengan Napoleon berhenti, Inggris mengembalikan sekalian koloni Belanda. Perbuatan ini seakan-akan sangat bertentangan dengan politik yang waktu itu dipakai Inggris, tetapi setelah dicermati perbuatan itu adalah politik Inggris yang selicin-licinnya dan semurah-murahnya dalam memakai Belanda sebagai opas untuk kapital yang ditanamnya di Indonesia. Apakah pengambilalihan seluruh administrasi yang ada di Indonesia memberi tanggung jawab dan kesusahan kepada Inggris? Kapital Inggris yang beberapa tahun belakangan ini makin hari makin besar, bagi Belanda — kecil sangat mengkhawatirkan, dan bangsa Indonesia sekarang tak sabar lagi, hingga Belanda sekarang berniat memakai "politik pintu terbuka". Istilah yang sebenarnya diambil dari kamus Amerika ini sungguh cocok dengan politik Belanda di Timur. Dalam kata-kata biasa, ia berbunyi: "Dan terhadap kapital Inggris serta bangsa Indonesia yang telah terjaga dari tidurnya, semestinya Belanda lebih kuat bila mempunyai Amerika yang demokratis. Tetapi negeri ini mesti ditarik ke Indonesia. Kapitalnya ditanam di Indonesia dengan segala daya upaya dan, jika perlu, diberikan hak-hak yang luar biasa. Jika tiba masanya, kelak Amerika bergandeng tangan dengan Belanda".
Uang dan susah payah tak diperhitungkan demi kapital Amerika. Seorang menteri pernah berkata terus terang di dalam kamer, bahwa: Kedatangan kapital Amerika sangat mudah karena undang-undang di Indonesia sekarang. Kunjungan Fock ke Manila pada tahun 1923, dan kedatangan beberapa kapal perang ke Filipina, mendudukkan seorang konsul jendral di New York yang kerjanya selain hilir mudik dengan perundingan dan perjanjian juga menghambur-hamburkan uang buat reklame, pamflet dan majalah yang selama bertahun-tahun memuat perihal Jawa sang negeri ajaib (Java the Wonderland). Semuanya itu adalah untuk memikat pelancong-pelancong dan kapitalis Amerika supaya datang berduyun-duyun ke Indonesia.
Berapa besar kapital Belanda itu dapat kita lihat pada angka-angka di bawah ini.
Dalam buku Handbook voor cultuur en handsondernemingen in Ned. India ditulis oleh Agulvant, kapital yang ditanam di Indonesia ditaksir sejumlah f 3.270.000.000. Di antaranya f 1.27,000,000 di dalam kebun-kebun, minyak f 900,000,000. Dalam bank dan perdagangan f 750,000,000.
Perusahaan kapal, kereta api dan tram masing-masingnya f 250.000.000, f 220.000.000 dan f 200,000,000. Tambang-tambang f 70,000,000 dan maskapai-maskapai asuransi f 60,000,000.
Kapital yang ditanam di Sumatera Timur pada tahun 1924 sejumlah f 439,000,000. Di antaranya 55.3% kepunyaan Belanda dan 44.7% kepunyaan bangsa asing. Kapital bangsa asing yang ditanam dalam industri pertanian sejumlah f 200,000,000. Di antaranya f 147,500,000 adalah kapital Inggris, f 300,000,000 milik Prancis dan Belgia, f 15.700.000 milik Jepang dan f 4.000.000 milik Jerman (International Ocean. No. 6, 1926).
Luas kebun karet pada tahun 1924 sebesar 241,357 bau [note 1]. Di antaranya 42.2% kepunyaan bangsa asing dan 32.4% kepunyaan Inggris. Berhubung dengan monopoli Inggris, kapital karet Amerika beberapa tahun belakangan ini sangat cepat meningkatnya di Sumatera. Luas kebun teh di Jawa 116,664 bau. Kepunyaan bangsa asing 23.8% dan Inggris 17.8%.
Dari tujuh macam hasil utama yang dikirimkan ke pasar-pasar di seluruh dunia, ekspor gula di tahun 1924, f 491,100,000 atau 32.1 % dari jumlah ekspor. Karet f 202,600,000, atau 13.2% dari ekspor. Minyak tanah f 158,300,000, tembakau f 123,600,000, kopra f 97,400,000, teh f 93,600,000 dan kopi f 56,600,000 yakni masing-masing 10.3%; 8.1%; 6.4%; 6.1%; dan 4.3% dari jumlah ekspor semuanya.
Pada tahun 1924 ekspor ke tanah Inggris dan di jajahannya 42.55% dari semua ekspor dan ke negeri Belanda hanya 19.7%, sedang 40.4% dari Inggris dan tanah jajahannya.
Jadi teranglah, bahwa perdagangan Inggris di Indonesia lebih besar dari semua negeri asing, sedangkan di dalam perusahaan minyak dan kebun-kebun yang terpenting, kapital Inggris memegang peranan yang terbesar di antara kapital bukan Belanda. Jadi tidaklah mengherankan mengapa orang Belanda tergesa-gesa memikat kapital Amerika.
Betul beberapa tahun belakangan ini, karena iri hati melihat Inggris menjalankan politik karet dengan cara monopoli, Amerika mulai menanam kapitalnya di kebun karet di Sumatera Timur. Akan tetapi, hal itu belum menjadi satu kepastian, apakah Amerika hendak menanamkan kapitalnya di Sumatera dan Jawa saja, sebab di Mindanau (Filipina Selatan) dan Liberia ada tanah yang subur untuk kebun karet.
Mengakui dan melindungi industri bumiputra yang modern seperti di India menurut pandangan ekonomi baru tidak akan ada sama sekali, sebab industri bumiputra modern memang tidak ada. Rakyat hanya diperas, diinjak-injak dan ditipu. Pemecatan kaum buruh bukanlah satu keanehan, dan cengkraman pajak makin lama makin erat. Ekonomi rakyat tak perlu disebut-sebut sebab negeri Belanda terutama bergantung pada kapital luar negeri.
[note 1] 1 bau = 500 tombak persegi atau 7096 m2.


jangan Menyerah



HIDUP di dunia ini memiliki banyak persoalan yang harus dihadapi oleh manusia. Tentu saja, ada banyak solusinya, bukan? Sebagai manusia yang terlahir ke dunia dengan banyak kelebihan dibandingkan makhluk Tuhan lainnya, kita harus semangat jalani kehidupan ini dengan semua tantangannya yang harus kita hadapi. Tak perlu lari dari masalah bila kita sedang bermasalah. Untuk apa berlari tapi kita tak bisa bersembunyi? Kita akan semakin kesulitan menyelesaikan satu masalah bila lari darinya. Tulisan ini adalah ajakan bagi kita semua untuk hadapi hidup dengan penuh semangat dan tak pantas berputus asa. Bukankah kita masih bisa bernafas sekarang?
Kita tahu bahwa banyak orang yang sedang mencari cara keluar dari masalah masing-masing. Bahkan, ada dari rekan-rekan sedang memiliki beban ketika membaca tulisan ini. Percaya dan yakinkan diri teman-teman bahwa hidup ini indah dengan adanya masalah-masalah. Tuhan ciptakan semua itu lengkap dengan solusinya. Tetapi, kita harus bersemangat hadapi semua itu dengan tidak menganggapnya masalah. Anggap saja mereka sebagai tantangan yang harus kita hadapi. Tak perlu taku! Kita pasti bisa hadapi semuanya dengan pikiran yang tenang dan semangat tinggi arungi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Masalah sekecil apapun tak akan pernah terpecahkan bila kita takut menghadapinya. Konon lagi masalah yang lebih besar dan kolosal, kita harus hadapi; jangan lari!
Putus asa itu bukanlah cara yang tepat menghadapi masalah. Jangan menyerah dan bangkitlah kembali bila sedang terjatuh. Mari kita melangkah dan kembali berjalan meski harus hadapi onak dan duri. Banyak rintangan yang kita temukan di jalan yang berbatu dan berlubang. Tapi, tetap yakin bahwa kita akan temukan jalan yang mulus.
Andai pun kita harus seberangi sungai, merenangi lautan, dan mendaki gunung yang terjal sekalipun tetaplah yakin bahwa semua persoalan pelik yang kita hadapi hari ini akan hilang. Semuanya akan berganti dengan kebahagian yang hakiki.
Kita tak perlu mengingat banyak persoalan pahit di masa lalu. Mari kita maafkan mereka meskipun tidak bisa mengubah apa-apa, namun hal ini penting dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik seperti yang kita mau. Ingatlah pepatah orang bijak bahwa pelaut ulung tidak pernah dilahirkan dari ombak yang tenang. Tidak pernah!
Tetap semangat jalani hidup dengan penuh keyakinan akan berhasil. Tersenyumlah dengan tulus kepada saudara, tetangga, dan rekan-rekan di lingkungan kita. Sikap ramah dengan tutur kata yang sopan kepada lawan bicara adalah satu langkah maju menuju hidup sesuai dengan impian kita semua; meraih sukses di dunia dan akhirat!

Motivasi


Salah suatu kualitas orang hebat adalah, apapun yang terjadi
mereka tidak akan pernah menyerah.
Mereka boleh saja terkena ribuan tantangan, atau ribuan kegagalan,
tapi mereka akan selalu bangkit menemukan cara baru untuk sukses.

Sebuah pepatah mengatakan, jika anda ingin menemukan benua baru,
maka anda harus melupakan pantai..
Dengan kata lain, tidak ada pilihan mundur kembali ke pantai .
yang ada hanyalah maju kedepan
sampai kita menemukan benua impian kita.

Ibarat anda sedang menyebrang melalui jembatan, anda harus membakar jembatan itu,
agar anda tidak bisa lagi kembali ke tempat semula anda.
satu-satunya pilihan adalah terus maju kedepan.
Tidak ada kata mundur, apalagi kata menyerah.

Jika anda tidak pernah menyerah pada tantangan,
maka tantanganlah yang menyerah padamu.
Inilah salah satu rahasia yang diketahui orang sukses,
dan diaplikasikan para orang sukses.

XXXXXXXXXX

kata-kata Perjuangan hidup




  1. Hidup sekali, hiduplah yang berarti
  2. Berjasalah tetapi jangan meminta jasa
  3. Sebesar keinsafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu
  4. Mau dipimpin dan siap memimpin, patah tumbuh hilang berganti
  5. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja
  6. Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat untuk sesamanya
  7. Perjuangan itu memerlukan pengorbanan
  8. Hanya orang yang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan
  9. Sederhana itu tidak berarti miskin
  10. Amalan yang paling berharga adalah perjuangan
  11. Lambat tertinggal, malas tertindas, berhenti mati.
  12. Ketakutan menghentikan orang memanfaatkan peluang, ketakutan meletihkan vitalitas fisik, ketakutan benar-benar membuat orang sakit dan menghentikan umur, ketakutan menutup mulut anda ketika sebenarnya ingin berbicara.
  13. Semua yang terjadi di luar adalah serupa dengan yang terjadi di dalam diri manusia yaitu pikiran dan perasaan
  14. Dunia ini tidak pernah diam. Meskipun dalam keheningan, selalu bergetar dalam vibrasi yang tidak tertangkap panca indra.
  15. Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung, barang siapa hari ini sama seperti hari kemarin maka ia merugi, dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia celaka.
  16. Selama anda terus melakukan apa yang selama ini anda lakukan, anda akan mendapatkan apa yang selama ini anda dapatkan. Jika anda tidak suka dengan apa yang anda dapatkan, anda perlu mengubah apa yang anda lakukan selama ini.
  17. Aku meminta kekuatan dan Allah memberiku kesulitan untuk membuatku menjadi semakin kuat.
  18. Aku bertanya tentang kebijaksanaan dan Allah memberikanku masalah untuk diselesaikan.
  19. Aku meminta untuk kemakmuran dan Allah memberikanku kesempatan dan tenaga untuk bekerja.
  20. Aku meminta keberanian dan Allah memberiku bahaya untuk diatasi.
  21. Aku meminta cinta dan Allah memberiku orang-orang yang bermasalah untuk dibantu.
  22. Semakin sulit sebuah perjuangannya semakin besar pula kemenangannya.
  23. Tanaman palsuku mati, karena aku tidak berpura-pura menyiramnya.
  24. Kehidupan pendidikanku menentukan masa depanku.
  25. Seringkali kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat dan hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.

Rabu, 10 September 2014

Apa Guna




Punya Ilmu Tinggi
Kalau Hanya.. Untuk Mengibuli
Apa Guna Banyak Baca Buku
Kalau Mulut Kau Buka Melulu

Dimana-mana
Rakyat dipaksa Menjual Tanah
Tapi..tapi.. tapi..tapi, Dengan harga Murah

Senin, 08 September 2014

Israel, Zionisme dan mitos

Bom dan roket-roket Israel hari ini sedang menghujani Gaza. Rumah-rumah penduduk banyak yang hancur. Anak-anak dan perempuan tidak sedikit yang menjadi korban. Di sisi lain, di perbatasan tentara Israel sedang bersiap-siap untuk melancarkan kembali serangan roket ke Gaza.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Hamas. Hamas telah melancarkan roket-roketnya ke Tel Aviv—bahkan hingga ke Caesarea. Namun tidak terdapat korban di pihak Israel. Hal ini disebabkan oleh posisi kekuatan kedua belah pihak tidak berimbang.
Israel dan Hamas telah berulangkali melakukan konfrontasi bersenjata selama bertahun-tahun dengan proporsi naik-turun. Namun ketegangan hebat antara keduanya hari ini kembali terjadi setelah terjadi penculikan tiga remaja Israel di Tepi Barat pada 12 Juni lalu. Israel menuduh Hamas berada di balik penculikan tersebut, meskipun tidak dapat memberikan bukti-bukti. Israel kemudian melancarkan tindakan keras terhadap anggota kelompok Hamas di Tepi Barat dan menangkap ratusan orang yang disinyalir sebagai anggota Hamas. Namun, serangan Israel sering diarahkan (dan sudah berulangkali) ke wilayah padat penduduk dan menewaskan banyak korban, terutama anak-anak dan perempuan. Inilah yang disebut oleh publik dunia sebagai “the atrocity”. Dan hari Rabu kemarin, dengan berdasar pada fakta mengerikan ini, Sekjen PBB, Ban Ki-moon, menyerukan diakhirinya gelombang kekerasan yang dilancarkan Israel ke Gaza. Menurut Ban Ki-moon, kekerasan ini berpotensi untuk menciptakan perang yang lebih dahsyat dan mematikan. Tetapi seruan PBB, yang pada dasarnya adalah klub besar para maling dunia, tidak digubris. PBB memang tidak punya taring sama sekali, impoten dan hanya bisa mengeluarkan air mata buaya.
Penyerangan Israel ke Gaza yang banyak menewaskan penduduk sipil ini merupakan kelanjutan dari misi politik Zionis, yakni mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina—dan, tentu, dengan mengorbankan rakyat Palestina.Mari kita coba kupas sedikit apa yang ada di balik Zionisme ini.
Zionisme adalah gerakan politik yang bertujuan untuk menyatukan kembali entitas Yahudi yang terpencar-pencar di seluruh dunia di dalam suatu tanah air yang telah “dijanjikan oleh Tuhan”. Gerakan Zionis didasarkan pada dalil kitab suci agama Yahudi mengenai Tanah Perjanjian (Promised Land). Kaum Yahudi menganggap bahwa merekalah yang berhak menempati tanah yang telah “dijanjikan oleh Tuhan”, yang berada mulai dari sungai Mesir hingga sungai Efrat. [“Aku akan menentukan batas daerahmu dari Laut Teberau sampai Laut Filistin dan dari padang gurun sampai sungai Efrat, sebab Aku akan menyerahkan penduduk negeri itu ke dalam tanganmu, sehingga engkau menghalau mereka dari depanmu.”—Keluaran 23:31].Tindakan Zionis ini, kemudian, mendapat kecaman dari berbagai pihak, dan yang paling disorot adalah kecaman dari pihak gereja Katolik—dalam konferensi Uskup Agung yang berlangsung di Vatikan tahun 2010. "Israel tidak bisa menggunakan alasan Tanah Perjanjian untuk mengklaim teritori Palestina … menggunakan ‘Perintah Tuhan’ untuk melakukan ketidakadilan," ucap Cyril Salim Bustros, Uskup Gereja Melkite Yunani. Tentu saja tidak perlu kita anggap serius kecaman dari rejim gereja Katolik ini, yang munafik karena mereka sendiri telah membenarkan penjajahan yang dilakukan oleh negeri-negeri imperialis dan membela dengan gigih sistem penindasan kapitalisme.
Konsep Tanah Perjanjian ini merupakan dasar prinsipil dari gerakan Zionis, yang menyerukan kaum Yahudi untuk menyatukan kembali entitas mereka dalam sebuah negara. Namun konsep ini ditentang keras oleh para petinggi agama Katolik. Para Uskup Agung menganggap bahwa 'Perjanjian Tuhan' sudah terhapus dengan hadirnya Kristus. “Kerajaan Tuhan" meliputi seluruh dunia. Tidak ada lagi istilah 'Umat Terpilih'. Semua manusia di setiap negara adalah 'Orang-Orang Terpilih'. Tapi benarkah gerakan Zionis hanya berdasar di atas perspektif keagamaan ini?
Akan sangat keliru kalau kita hanya merujuk pada kitab suci, seakan-akan alur sejarah ditentukan oleh kepercayaan agama ini atau itu. Ada basis sosial dan historis yang mendasari Zionisme. Pertama, basis sosial ini – atau dukungan umum rakyat Yahudi terhadap gerakan Zionisme – datang dari sejarah ketertindasan rakyat Yahudi itu sendiri selama beratus-ratus tahun sebagai minoritas. Di banyak negeri, rakyat Yahudi adalah minoritas yang kerap terdiskriminasi, dan diskriminasi ras ini biasanya dikobarkan oleh pemerintahan-pemerintahan yang berkuasa untuk membuat rakyat Yahudi sebagai kambing hitam dari segala masalah yang ada. Seperti di Indonesia ketika orang-orang keturunan atau Tionghoa dijadikan kambing hitam oleh rejim Orba (dan bahkan sejak dahulu oleh penguasa kolonial Belanda).
Karena sejarah penindasan ini, yang terutama memuncak dengan genosida yang dilakukan oleh fasisme Jerman, maka terbentuklah aspirasi di antara rakyat Yahudi untuk membentuk negara-bangsa mereka sendiri, dimana mereka akan bebas dari penindasan dan diskriminasi. Akan tetapi, karena tidak memiliki kepemimpinan sosialis yang revolusioner, maka aspirasi  nasional rakyat Yahudi ini dibajak oleh kelas borjuasi Yahudi ke arah mistisme Zionisme untuk keperluan imperialis. Kita harus ingat, bahwa di dalam masyarakat Yahudi ada dua kelas, ada kelas buruh Yahudi dan ada kelas kapitalis Yahudi.
Zionisme terbukti telah memperoleh dukungan sistematis dari negara-negara Barat. Amerika Serikat memberikan dana sekitar 5 triliun dolar AS per tahun, Inggris memberikan bantuan dalam peralatan militer, dan Uni Eropa memberikan akses terhadap opini yang dibentuk oleh Israel ke publik dunia bahwa sumber konflik antara Israel dan Palestina adalah gerakan ‘teroris’ Palestina. (Sumber: hasil konferensi “Against Zionism: Jewish Perspectives” pada tanggal  2 Juli 2006 di Inggris). Dari sini jelas bahwa Zionisme merupakan bagian dari strategi imperialisme global.
Sebagai proyek rasis dari imperialisme, Zionisme akan terus menciptakan konflik di antara bangsa Arab. Zionisme akan terus mengangkat konflik-konflik yang dihasilkan dari ‘kebencian bawaan’ (innate conflict) antara Islam dan Yahudi, dan membuat sebuah pembenaran bahwa “pengeboman terhadap Hamas-Palestina merupakan tindakan militer yang wajar”.
Kekuatan militer Israel disokong oleh negara-negara Barat melalui lobi dari para Zionis yang memiliki posisi berpengaruh di parlemen negara-negara Barat. Selain itu, sokongan besar juga didapat dari pemodal-pemodal besar Zionis yang sedang sukses menjalankan bisnisnya di negara-negara besar. Zionisme adalah digunakan sebagai proyek dari imperialisme guna mempermudah penguasaan sumber-sumber minyak di negara-negara Arab.
Rakyat pekerja Yahudi yang menyadari adanya keterlibatan para pemodal besar dalam gerakan Zionisme mulai mengutuk gerakan ini, terutama rakyat pekerja Yahudi yang telah berhasil membongkar tabir mitos-mitos Judaisme dan melihat kepentingan imperialis dan kapitalis di belakang Zionisme. Artinya, rakyat pekerja Yahudi sendiri harus kritis dalam melihat misi politik kapitalis gerakan Zionis; gerakan-gerakan revolusioner dunia harus terus mendorong rakyat pekerja Yahudi, terutama Yahudi kelas pekerja, baik yang berada di luar Israel maupun yang berada di negara Israel, untuk membebaskan diri dari mitos-mitos Judaisme dan Zionisme—sebagaimana yang pernah ditulis oleh Marx pada tahun 1843, dalam On The Jewish Question; ditulis sebelum lahirnya gerakan Zionis modern pada (sekitar) tahun 1897: “The social emancipation of the Jew is the emancipation of society from Judaism.”(Emansipasi sosial dari kaum Yahudi adalah emansipasinya dari Judaisme.)
Dari sini kita sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan politik, bahwa konflik yang sedang terjadi di Palestina bukanlah konflik agama, melainkan konflik kelas: konflik kepentingan atas sumber-sumber kapital. Dan mari kita serukan kepada seluruh kaum revolusioner dan kelas pekerja agar menyikapi situasi yang sedang terjadi di Palestina tidak dengan perspektif yang salah, tapi dengan perspektif ‘politik kelas

BAB II 
"PROSES PERTUKARAN"

Oleh : Kelompok Belajar KAPITAL

Jelas bahwa komoditi adalah suatu benda yang tidak dapat bergerak dengan sendirinya ke pasar dan tidak dapat dengan sendirinya melakukan pertukaran – pertukaran.jadi dibutuhkan para wali(baca; pemilik komoditi ) untuk menukarkannya dengan komoditi lainnya. Proses pertukaran antara komoditi dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan