This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BAHASA KOREA

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

BELAJAR BERORGANISASI DAN BERJUANG

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 14 September 2014

DoA PoliTik

Tuhanku, Tuhan Kami
Inilah doaku, doa kami
untuk bangsa politik, untuk negara politik, untuk rakyat politik, untuk politisi partai, untuk peminpin politik.

Ketukan pintu politik kami, kian rusak
syair-syair politik kami, kian memanas
tak ada lagi kebenaran, kejujuran, pengertian, serta sejengkal logika cita-cita pembebasan rakyat.

Tuhan..
Kami inginkan politik yang damai
kami inginkan senjata-senjata itu berhenti menghantui hidup kami.
Kami sudah cukup mengerti akan negara
Kami sudah cukup paham akan kemiskinan
kami sudah turut merasakan ekonomi yang tak pernah berpihak.

Tuhan…
Kami butuh jawab-Mu
Nyanyian rentetan senjata israel, itu doa siapa?
Quick Count pemilu yang bersebrangan, itu dosa siapa?
Kecemasan akan bencana perang politik, itu pertobatan siapa?

Tuhan…
Kami butuh pengakuan-Mu
jikalau setiap pengakuan di Bumi sudah mengancam kehidupan kami.
Jikalau kemenangan pilpres hanya melahirkan kecemasan bangsa kami.
Jikalau pengakuan kemenangan politik, hanya merobek persatuan kami.

Tuhan…
Di manakah surga-Mu
jikalau mitos Suraga kaki Ibu, masih diyakini oleh kami, hingga saat ini.

Tuhan…
Tunjukan surga-Mu
untuk republik ini

SINTINGKU MENCUAT




Inilah Sintingku yang mencuat
Tak seperti debatan para sinting tentang si-Sinting, yang mebuat pernyataan sinting di negeri Sinting.

Sintingku mencuat, ketika melihat para sinting bermain suara.
Sintingku memuncrat, ketika mendengar para sinting membeli suara.
Sintingku memusat, ketika menyimak para sinting mengkibuli rakyat.

Sintingku mengalir deras, seirama syair-syair sintingku ini.
Sintingku mengamuk keras, seirama rusaknya otak sintingku ini.

Mungkin saja…
Sintingku bisa merobek luka hati masa rakyatku.
Sintingku mampu membuka pola pikir politisiku.
Sintingku sanggup menutup seluruh kesintingan, penyinting bernegeri sinting.

Wahai para sinting sepertiku,
marilah melanjutkan syair sintingku ini.
Mulailah membaca syair sintingku ini.
Mungkin akan lebih cerdas, ketimbang menyimak calon presiden sinting di negeri sinting, yang sedang membaca pidato politik sinting, lalu memaksa suara-suara sinting untuk memilih pemimpin sinting sepertinya.

Sintingku berawal dari cerita pemimpin sinting.
Mungkin saja, sintingku lebih sensasional dalam larikan puisi sinting ini.
Mungkin juga akan sangat rasional bagi penyimak puisi sinting se-aliranku.

Inilah tanda-tanda kesintinganku.
Atas nama anggota partai sinting,
Atas nama politisi sinting,
Atas dasar ketukan palu rapat para sinting,
maka lahirlah pemimpin sinting
dengan mengatasnamakan pemimpin sinting akar rumput.

Mungkin amnesia sedang melekat pada otak sintingku ini,
Tak ada negeri sinting yang bisa merdeka, jikalau rakyat sinting sepertiku, tak pernah terorganisir ke dalam cita-cita politik yang sendem.

Sintingku mungkin lebih kritis dari kritikus beruang di negeri sinting

Lihatlah…,
Organisasi akar rumput saja masih hingar bingar, berlari tak punya ideologi.
Lalu apa hebatnya, memilih pemimpin di negeri sinting, jikalau wakil rakyat, hanya jadi slogan koalisi.



Politik Jari Tangan



Jijik,
Jorok,
amis,
melihat, mencium,
jari tangan politik empat belas.

ibu jari, bapak jari, tanta jari, paman jari, anak jari, di angkat setinggi kepala
melengking di setiap panggung demokrasi.

Politik jari tangan, jadi brand pemilu
Salam-salaman ibu jari, hingga bapak jari cemburunya minta ampun.
Salam-salaman tanta jari, hingga paman jari ngamuknya minta ampun.
Sedangkan anak jari, bingung melotot sana-sini.
Heheheeeee….

Politik jari tangan,
dari kumpulan kuku-kuku hitam
kalaupun berwarna, itu karena cat politik

Politik jari tangan,
dari koalisi pakar-pakar jari,
jari pengusaha, jari perampok, jari pembunuh, jari koruptor, jari politisi,
mengejar, merayu, menyunting
jari petani, jari nelayan, jari buruh, jari kaum miskin
hingga kemenangan tiba,
koalisi jari, lototnya sedih-sedih seru.

Apalah untungnya politik jari tangan, jika ruas-ruas jari tak pernah terorganisir secara baik?

Apalah arti politik jari tangan, jika ideologi ekstraparlemen masih sebatas unjuk tarian jari?

Apalah arti kuasa politik jari tangan, jika sistem jari presidensial masih berbau
kepentingan koalisi?

Hehehehehee…..
Jutaan jari mendadak pemilu,
Meloncat-loncat dengan segala loncatan kepentingan.
Menunjuk-nunjuk dengan segala pertunjukan privasi,
hingga kolektivisme itu diam, sambil menghisap jempol politik.

kuku-kuku politik


PUISI-PUISI  “REVOLUSI MENTAL” KARYA CARLOS TOULWALA



Jari-jari kurus berkuku hitam
itu tanda, kukunya ‘Pak Tani
itu berarti, kaum buruh sedang bekerja
mungkin juga, nelayan sedang mencari, atau kaum miskin kota sedang mengorek sampah jalanan.

Kuku-kuku hitam, di ujung jari politisi hitam
mengotori politik publik
mencubit-cubit ekonomi rakyat
mengorek kas-kas negara
lalu bersembunyi di balik jari-jari kekuasaan
hingga ruas-ruas Kejari, tumpul di mata kukuk hukum.

Saling kejar, saling tangkap,
licin, lolos, mulus,
lalu uang yang tertangkap.

Kuku-Kuku hitam, di jari-jari partai
berpolitik menggaruk kekuasaan
menggores alur-alur proyek
hingga selangkangan dompet terkuras
demi mimpi relawan politik.

Kuku-Kuku hitam, punya relawan politik
sengit terdengar ditelinga demokrasi.
Bila menang, ketiak-ketiak kuku tersenyum bangga membagi kedudukan negara.
Bila kalah, ketiak-ketiak kuku tertidur pulas di rumah sakit terdekat.

Hehheee….
Kuku politik, kasar mainannya
meleceti setiap kesempatan untuk merdeka
melukai setiap harapan pembebasan nasional
hingga jeritan rakyat, terjerat di ujung kuku-kuku hitam.

Revolusi

sebuah bahtera melanda setiap jiwa
tuk bangkit dari penjajahan si raja fir 'aun
gegap gempita di penjuru negeri
menyambut nur Illahi datang menerangi

seribu bahasa bergema bertakbir di lorong lorong kota
sambut kemenangan yg di janjikan
bangunkan si pejuang lelah
dari keterpurukan tangan besi si penguasa dzolim

negeri besar telah berdiri
menjulang tinggi di dasar hati
lelaki sejati tumbalkan jiwa
demi cita ilahi Raby

dari diri hingga negeri
revolusi berbalut takbir bergelora jiwa nan lembut
di buai darah si anak negeri
rentangkan kaki di ujung jalan
di batas negeri yang menjadi saksi

Semilir Nur Ilahi Mendekap Qalbu

menembus ranting cahaya nan suci di qal bu
semerbak kehidupan menyeruak di sela dedaunan
diliputi nyayian rumput liar
dahan ilalang subur di jiwa

di hinggapi alunan tasbih
dalam kelam ku bersujud
menempa jiwa di padang tandus

membawa kesejukan bak rindang pohon
meresap di qol bu mendaki  asa
dalam karang gunung kepalsuan

ku seranhkan jiwa nan raga
duduk bersimpuh dalam keharibaan-Mu
secercah iman menghisab diri
dari jauhnya kilauan dunia

berontak jiwa nan lembut di rimbunya nur Illahi
mengajak tamasya di di relung jiwa
 akulah pengembara di tanah nan suci
yang di takdirkan membawa risalah
tuk merubah jalan berliku

Sang Pejuang

dataran rendah elok terhampar
suara burung bangkai liar di awan
dalam nafas si kuda jantan
di kaki bukit penuh kemulyaan

dalam terik kau menghujam
laksana hunusan pedang menyambar jiwa
ratakan tanah tanah yang gersang 
kau balut dengan rimbunan nur Illahi

penduduk desa bersuara miring dalam kerontang haus dan dahaga
dalam semak semak belukar kau hadir tebarkan senyum
dihiasi darah nan mulya
di kaki gunung pengharapan
dalam diam slalu bermunajat 
pada Illahi raby sang penguasa Allam
dentumkan genderang tanda kan datang 
di kilauan sinar surya
gertakan suara kaki
debu debu berhamburan biar syetan durjana terbiritbirit
tak sanggup tegap depan sang pejuang sejati

Lukisan Cerita Bernama MENARA'11

Semesta telah mempertemukan kita semua dalam sebuah sistem
Sistem yang bernama PADAMU HIMATIKA 2011
Ya, Disini kita mulai saling kenal, peduli dan merasakan kedukaan
Bersama - sama merangkai asa untuk mencapai satu tujuan
Bertekad dan bekerjasama untuk menuju satu kejayaan
Membawa semangat besar akan sebuah perubahan
Berjuang mengarungi Lautan samudera bernama angkatan
diterpa ombak besar dan badai hingga sampai di tanah harapan
Terkadang masalah dan konflik yang menjadikan persahabatan kita lebih bernilai indah


Kita akan jadi Pelita di tengah gulita sang malam
Menjadi cahaya di dalam kegelapan semesta
Menjadi embun yang akan selalu menyambut sang pagi
Dan orang-orang malam yang akan selalu membicarakan terang
Kita tahu betul mengartikan kata kebersamaan
kita tidak pernah salah memaknai kata kepedulian
Dan kita akan selalu ingat arti kata Persaudaraan


Mungkin Kita bukanlah satu kesatuan Kawan
Kita tidak pernah diikat dalam suatu Ikatan
Dan bukan berkelompok membentuk sebuah Komunitas
Tapi Kita Bersama dalam Kebersamaan Angkatan
Direkatkan oleh cincin bernama Persaudaraan
Dipertemukan dalam Matematika Angkatan Bersaudara 2011
MENARA'11


Jangan pernah melupakan kenangan dan impian yang telah kita lukiskan dahulu kawan.
Selamat Merayakan 2 Tahun Menjadi Warga HIMATIKA ITS, MENARA'11.